Perilaku ritual warok ponorogo dalam perspektif teori tindakan Max Weber

Taufiq, Amal (2013) Perilaku ritual warok ponorogo dalam perspektif teori tindakan Max Weber. The Sociology of Islam, 3 (2). pp. 112-122. ISSN 2774-2814 ; 2775-2143

[thumbnail of Amal Taufiq_Perilaku Ritual Warok Ponorogo Dalam Perspektif Teori Tindakan Max Weber.pdf] Text
Amal Taufiq_Perilaku Ritual Warok Ponorogo Dalam Perspektif Teori Tindakan Max Weber.pdf
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike.

Download (137kB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasari fenomena empiris bahwa ada sebagain masyarakat Ponoroogo tepatnya kalangan warok yang sampai sekarang masih eksis dalam tradisi perilaku ritualnya dalam upaya mempertahankan jati diri ketimuran sekaligus untuk mempertahankan daya mesitik mereka. Munculnya perilaku rirtual ini sebagai respon positif terhadap tantangan global yang semakin menggerus budaya local. Terdapat kemiripan dalam terminology antara warok Ponorogo dengan wara’ (sufi) istilah wara’ yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengandung subhat (sesuatu yang belum diketahui hukumnya), wara’ adalah status social bagi seorang yang menempuh jalan sufi, status tersebut secara berurutan taubah, wara, zuhud, tawakal, sabar, dan kerelaan, sedangkan warok dalam terminology budaya Ponorogo adalah sebuah nama yang sekaligus symbol dari kelas dan status social yang tinggi di kalangan masyarakat, beberapa ajaran warok yang dijunjung tinggi disebut dengan sembilan kautaman. Untuk mempertahankan daya mistik warok pada tahap awal dimulai dengan mensucikan diri dengan tiga patrap (aktifitas) yaitu sucining suwara, sucininng tenogo, sucining roso. Selajutnya setelah melakukan tiga patrap diatas tahap berikutnya adalah melakukan lakon tirakat dengan mengurangi makan, mengurangi tidur dan mencegah sahwat, bersamaan dengan lakon ini mereka juga harus meninggalkan sirikan (pantangan ) yaitu molimo maling, madat, main, minum, madon dan ditambah dua macam yaitu madani dan mateni. Selajnutnya mereka harus melakukan puasa, ada sembilan macam puasa di kalangan warok yaitu puasa ngrowot, puasa ngidang, puasa mendem, puasa pate geni, puasa mutih, puasa ngalong, puasa ngasrep, puasa ngepel, dan puasa ngebleng. Dalam pespektif teori tindakan Max Weber perilaku diatas bisa diklasifikasikan dalam tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan ini terarah pada nilai, bersifat rasional dan mampehitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk criteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat

Item Type: Article
Creators:
Creators
Email
NIDN
Taufiq, Amal
amal_taufiq@yahoo.co.id
UNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Perilaku ritual; Warok
Subjects: 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1608 Sociology > 160801 Applied Sociology, Program Evaluation and Social Impact Assessment
16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1608 Sociology > 160806 Social Theory
Divisions: Karya Ilmiah > Artikel
Depositing User: Imroatul Mufidah
Date Deposited: 20 Nov 2021 13:00
Last Modified: 22 Nov 2021 11:00
URI: http://repository.uinsby.ac.id/id/eprint/1792

Actions (login required)

View Item
View Item